Rabu, 24 Maret 2010

Peristiwa Sejarah Bandung Lautan Api

MEDIA PUBLIK - SEJARAH. Surat Kabar De Waarheid sebagaimana dikutif Soeara Merdeka Bandung (Juli 1946) memberitahukan bahwa di Downingstreer 10. London, pada awal tahun 1946, Inggris menjanjikan penarikan pasukannya dari Jawa Barat dan menyerahlan Jawa Barat kepada Belanda, yang selanjutnya akan menggunakan sebagai basis militer untuk menghadapi Republik Indonesia.

Kesepakatn dua sekutu Inggris dan NICA (Nederlands Indie Civil Administration) Belanda itu memunculkan perlawanan heroic dari masyarakat dan pemuda pejuang di Bandung, ketika tentara Inggris dan NICA melakukan serangan militer ke Bandung. Tentara sekutu berusaha untuk menguasai Bandung, meskipun harus melanggar hasil perundingan dengan Republik Indonesia.

Agresi militer Inggris dan NICA Belanda pun memicu tindakan pembumihangusan kota oleh para pejuang dan masyarakat Bandung.

Warga Bandung cinta kotanya yang indah, tetapi lebih cinta kemerdekaan….

Sekarang Bandung telah menjadi lautan api …………………………..
Mari, Bung … Bangun … Kembali ……

Tentara Sekutu dan NICA Belanda, yang menguasai wilayah Bandung Utara (wilayah di utara jalan kereta api yang membelah kota Bandung dari timur ke barat), memberikan ultimatum (23 Maret 1946) supaya Tentara Republik Indonesia (TRI) mundur sejauh 11 km dari pusat kota (wilayah di selatan jalan kereta api dikuasai TRI) paling lambat pada tengah malam tanggal 24 Maret 1946. Tuntutan itu disetujui Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta, padahal Markas Besar di Yogyakarta telah memerintahkan TRI untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Bandung. TRI dan masyarakat Bandung memutuskan untuk mundur ke selatan, tetapi sambil membumihanguskan Kota Bandung agar pihak musuh tidak dapat memanfaatkannya.

Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran diawali pada pukul 21.00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang). Para pejuan dan masyarakat membakari bangunan penting di sekitar jalan kerata api dari Ujung Berung hingga Cimahi. Bersamaan dengan itu, TRI melakukan serangan ke wilayah utara sebagai “upacara” pengunduran diri dari Bandung, yang diiringi kobaran api sepanjang 12 km dari timur ke barat Bandung membara bak lautan api dan langit memerah mengobarkan semangat juang. Tekad untuk merebut kembali Bandung muncul di dalam hati setiap pejuang.

Sejarah heroic itu tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). Lagu Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki menjadi lagi perjuangan pada saat itu. Akhirnya, NICA Belanda berhasil menguasai Jawa Barat sepenuhnya melalui Perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang menekan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengosongkan Jawa barat dari seluruh pasukan tentara Indonesia, menyusul kegagalan agresi militer 20 Juli – 4 Agustus 1947.

NICA melanggar`gencatan senjata dan terus menggempur basis pertahanan tentara Indonesia hingga Januari 1948. Pasukan Indonesia (Divisi Sliwangi) terpaksa hijrah ke Jawa Tengah pada`tanggal 1 – 22 Pebruari 1948.

Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) menyimpan sejarah yang cukup penting bagi masyarakat Kota Bandung. Saat itu tanggal 24 Maret 1946. Tentara dan warga Bandung membumihanguskan kota agar tentara sekutu tidak dapat menduduki dan mempergunakan fasilitas yang ada di Bandung.

Kemerdekaan yang kini bisa dinikmati masyarakat Bandung itu tidak terlepas dari ribuan pejuang yang ikut membumihanguskan Kota Bandung dan mengusir penjajah pada waktu itu. Namun, seiring berjalannya waktu, satu persatu pejuang BLA tersebut telah pergi.

Kini, veteran BLA yang tersisa hanya tinggal 140 orang saja. Mereka tergabung dalam Legiun Veteran RI (LVRI) Kota Bandung. Veteran ini pun mengaku memperoleh julukan baru yaitu besi tua.

“Kami ini besi tua, yang bisa dijadikan rongsokan atau juga barang antik,” ujar Ketua LVRI Kota Bandung, Sudirman, seusai ziarah dan tabur bunga Peringatan BLA di Taman Makam Pahlawan di Jalan Cikutra, Bandung, Selasa (22/3).

Sudirman mengatakan jumlah pejuang yang ikut BLA sekitar ribuan orang. Tetapi, veteran BLA yang masih hidup saat ini hanya sekitar 140 orang. Banyak pejuang BLA yang sudah berpulang ke pangkuan Sang Khalik.

Meskipun saat ini menjadi ‘besi tua’, tapi Sudirman mengaku dirinya dan veteran lainnya merasa bangga bisa menjadi bagian dari peristiwa heroik Bandung Lautan Api. Mereka bangga bisa ikut berperan bagi kepentingan bangsa. “Saya bangga bisa menjadi bagian sejarah dan membantu bangsa dan negara ini,” ucap lelaki yang rambutnya sudah memutih dan kulitnya keriput tapi jalannya masih terlihat tegap itu.

Walaupun ‘besi tua’, Sudirman mengaku saat ini dirinya masih memiliki semangat juang BLA. “Kalau Surabaya punya monumen dan jadi Kota Pahlawan, Bandung juga punya monumen dan seharusnya jadi Kota Pejuang,” katanya.

Bandung telah melalu tiga era, yaitu :

Era Pajajaran
Pada tahun 1488, daerah yang sekarang dikenal dengan nama Bandung tadinya adalah ibukota Kerajaan Padjajaran. Tetapi dari penemuan arkeologi kuno, kita mengetahui bahwa kota tersebut adalah rumah bagi Australopithecus, Manusia Jawa. Orang-orang ini tinggal di pinggiran sungai Cikapundung sebelah Utara Bandung, dan di pesisir Danau Bandung yang terkenal. Artifak Batu Api masih dapat ditemukan di daerah Dago atas dan di Museum Geologi terdapat gambar dan fragmen dari sisa tengkorak dan artifak.

Masyarakat Sunda adalah petani-petani yang bergantung pada kesuburan tanah di Bandung. Mereka mengembangkan tradisi lisan yang hidup yang didalamnya mencakup pertunjukan wayang golek, dan banyak jenis pertunjukan musik lainya. “Ada sebuah kota bernama Bandung, berisikan 25 sampai 30 rumah,” tulis Juliaen de Silva pada tahun 1614.

Era Kolonial Belanda
Pencapaian dari petualangan bangsa Eropa untuk mencoba keberuntungan mereka di tanah yang subur dan makmur di Bandung, mengarahkan mereka akhirnya pada tahun 1786 saat pembuatan jalan dibangun menghubungkan Jakarta, Bogor, Cianjur dan Bandung. Arus ini meningkat pada tahun 1809 saat Louis Napoleon, penguasa Belanda, memerintahkan Gubernur Jendral H.W. Daendels, untuk meningkatkan pertahanan di Jawa melawan Inggris. Visinya adalah sebuah unit rantai pertahanan dan sebuah jalan untuk persediaan barang antara Batavia dan Cirebon. Tapi daerah pantai ini banyak terdapat rawa-rawa, dan lebih mudah untuk membangun jalan ke arah selatan, melewati dataran tinggi Priangan.

The Groote Postweg (Jalur Pos Terhebat) dibangun 11 mil ke arah utara sampai ke jantung kota Bandung. Seperti biasa dengan kecekatannya, Daendels memerintahkan bahwa ibukota direlokasikan ke jalan tersebut. Bupati Wiranatakusumah II memilih sebuah tempat di bagian selatan jalan dari sisi sungai sebelah barat Cikapundung, dekat sepasang sumur keramat, Sumur Bandung, yang menurut rumor di lindungi oleh dewi Nyi Kentring Manik. Di daerah ini dia membangun dalemnya (istananya) dan alun-alun (pusat kota). Mengikuti orientasi tradisional, Mesjid Agung di tempatkan di sisi selatan, dan pasar tradisional di sisi timur. Rumahnya dan Pendopo (tempat pertemuan) terletak di bagian selatan menghadap gunung keramat Tangkuban Perahu. Saat itulah Kota Kembang lahir.

Sekitar pertengahan abad ke 19, Amerika Selatan cinchona (quinine), teh Assam, dan kopi diperkenalkan pada para dataran tinggi. Pada akhir abad itu Priangan terdaftar sebagai daerah pertanian paling menguntungkan se-profinsi. Pada tahun 1880 rel kereta api menghubungkan Jakarta dan Bandung telah selesai, dan menjanjikan perjalanan selama 2 1/2 jam dari keramaian ibukota Jakarta ke Bandung.

Dengan perubahan gaya hidup di Bandung, hotel, cafe, pertokoan muncul untuk melayani para petani yang entah datang dari dataran tinggi atau dari ibukota sampai daerah pesiar di Bandung. Kalangan masyarakat Concordia terbentuk dan dengan ruang tarinya yang besar merupakan magnet yang menarik orang untuk menghabiskan akhir pekan di kota. Hotel Preanger dan Savoy Homann adalah hotel-hotel pilihan. Braga di sepanjang trotoarnya terdapat toko-toko eksklusive Eropa.

Dengan adanya rel kereta api, cahaya perindustrian berkembang. Begitu panen tanaman mentah telah dapat langsung dikirimkan ke Jakarta untuk pengiriman lewat laut ke Eropa, sekarang proses utama dapat dilakukan secara efisien di Bandung. Orang Cina yang tidak pernah tinggal di Bandung berangsur-angsur datang untuk membantu menjalankan beberapa fasilitas dan mesin dan pelayanan bagi industri-industri baru. Pecinan muncul pada masa ini.

Pada masa awal abad ini, Pax Neerlandica di proklamasikan, menghasilkan perubahan dari pemerintahan militer menjadi sipil. Dengan ini muncul polis tentang desentralisasi untuk meringankan beban administrasi dari pemerintahan pusat. Dan demikianlah Bandung menjadi kotamadya pada tahun 1906.

Perubahan ini memberikan dampak besar pada kota. Balai kota dibangun di ujung utara Braga untuk mengakomodasi pemerintahan yang baru, terpisah dari sistem masyarakat yang asli. Ini kemudian di ikuti oleh pengembangan yang jauh lebih besar saat markas besar militer dipindahkan dari Batavia ke Bandung sekitar tahun 1920. Tempat yang dipilih adalah di bagian timur Balai Kota, dan yang didalamnya terdapat tempat tinggal bagi Panglima perang, kantor, barak, dan gudang persenjataan.

Pada awal abad ke-20 kebutuhan untuk mempunyai seorang profesional yang memiliki kemampuan khusus menggerakan pendirian sekolah tinggi teknik yang disponsori oleh warga kota Bandung. Pada saat yang sama rencana untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung sudah matang, kota ini di perluas ke utara. Distrik ibukota ditempatkan di bagian timur laut, daerah yang tadinya adalah persawahan, dan sebuah jalan raya direncanakan untuk dibuat sepanjang 2.5 kilometer menghadap Gunung Tangkuban Perahu dengan Gedung Sate di ujung selatan, dan sebuah monumen kolosal disisi lainnya. Pada kedua sisi dari gedung yang megah ini akan terdapat permukiman bagi kantor-kantor milik permerintahan kolonial.

Sepanjang bantaran sungai Cikapundung diantara pemandangan alam terdapat Kampus Technische Hoogeschool, asrama dan bagian pengurus. Bangunan tua kampus ini dan pemandangannya mencerminkan arsiteknya yang genius Henri Maclain Pont. Di bagian barat daya disediakan untuk rumah sakit dan institute Pasteur, di lingkungan pabrik kina yang tua. Pembangunan ini direncanakan dengan sangat teliti mulai dari arsitekturnya dan perawatan secara detail. Tahun sebelumnya tidak lama sebelum pecahnya perang dunia ke 2 merupakan tahun keemasan bagi Bandung dan dikenang sebagai Bandung Tempoe Doeloe.

Tonggak-Era Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, Bandung menjadi ibukota provinsi Jawa Barat. Bandung merupakan tempat terjadinya konferensi Bandung pada tanggal 18 April – 24 April 1955 dengan tujuan untuk promosi ekonomi dan kerjasama budaya antara negara Afrika dan Asia, dan untuk melawan ancaman kolonialisme dan neokolonialisme oleh Amerika Serikat, Uni Soviet atau negara-negara imperialis lainnya.***

Selasa, 05 Januari 2010

SEJARAH TERBITNYA SURAT KABAR SUARA KALIMANTAN (Soeara Kalimantan)

Suara Kalimantan dulunya merupakan surat kabar yang bernama Soeara Kalimantan merupakan surat kabar yang pernah eksis pada masa penjajahan Belanda di Kalimantan Selatan. Surat kabar ini ada dua kepemilikan dan masa penerbitan surat kabar ini memakai nama Soeara Kalimantan yang terbit antara tahun 1930-1942 yang isi pemberitaannya seringkali melawan Pemerintah Hindia Belanda. Surat kabar ini pertama terbitnya pada tanggal 23 Januari 1930.

Dalam Soeara Kalimantan Saptoe 7 Februari 1942 – 19 Moeharram 1361 tertulis bahwa: Directeur-Hoofredacteur A.A. Hamidhan. Kantoor Redactie dan Administratie Pasar Baroeweg No. 110 – Telefoon – adres “swarakalimantan”. Penerbit: Drukk. en Uitgev. My. Kalimantan Bandjermasin. Surat kabar ini dijual eceran 6 sen. Harga langganan satu bulan f.1, tiga bulan (kwartaal) f.3, Luar negeri setahun f.15. Surat kabar ini mempunyai agen di Batavia dan Surabaya.

Karena seringkali berlawanan dengan Pemerintah Hindia Belanda, maka menjelang kedatangan tentara Jepang di Banjarmasin, mesin cetak Soeara Kalimantan dihancurleburkan oleh AVC (Algemene Vernielings Corps) Belanda bersamaan dengan praktek pembumihangusan objek vital lainnya di Banjarmasin dan pada akhirnya surat kabar Soera Kalimantan hanya bisa bertahan sampai tahun 1942.

Pada tanggal 5 Oktober 1945 terbit lagi surat kabar ini dengan nama Soeara Kalimantan yang kepemimpinannya bukan yang dululagi, yaitu dipimpin oleh Ardansyah dan Gusti A. Soegian Noor. Karena pada mulanya bersikap menyuarakan kepentingan NICA, maka surat kabar ini sempat diprotes oleh A.A. Hamidhan yang pernah memimpin dan memakai nama Soeara Kalimantan sebagai surat kabar yang terbit pada tahun 1930-1942 yang isi pemberitaannya seringkali melawan Pemerintah Hindia Belanda. Surat kabar ini hanya bisa bertahan satu tahun yaitu antara tahun 1945-1946.

Perjuangan para pejuang rakyat Kalimantan lewat surat kabar pada waktu itu tidak pupus, untuk mengelabui para penjajah maka nama surat kabar Soera Kalimantan dirubah menjadi surat kabar Kalimantan Berdjuang yakni surat kabar kaum republiken pada masa perang kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan.

Dalam penerbitan lain adakalanya ditulis “Kalimantan Berdjoang”. Pelopornya adalah orang-orang dari surat kabar Sinar Hoeloe Soengai dan Majalah Republik, seperti A. Djabar dan Haspan Hadna. Tanggal penerbitan pertama Harian Kalimantan Berdjuang adalah 1 Oktober 1946 beralamat di Jalan Musyawarah Kandangan. Setelah kurang lebih berjalan 3 bulan, media massa ini dipindahkan ke Banjarmasin berkantor di simpang empat Kertak Baru (sekarang ditempati Kantor Pengadilan Tinggi Jalan Haryono MT).

Surat kabar ini tidak kalah isi beritanya menyaingi dan mengimbangi berita-berita yang disuarakan pers NICA “Soeara Kalimantan “, sehingga sejak pertama kali terbit selalu diawasi dengan ketat oleh mata-mata NICA. Bahkan setelah beberapa hari harian terbit, A.Djabar selaku pimpinan umum dipanggil dan mendapat peringatan keras dari Merah Nadalsyah Kiai Besar Afdeling Hulu Sungai.

Sikap Harian Kalimantan Berdjuang yang mendukung Negara Kesatuan dan menentang federalisme, menimbulkan simpati rakyat di daerah ini. Karena sikap yang tegas inilah harian ini selalu diawasi oleh mata-mata Belanda.

Ketika masih terbit di Kandangan, oplah atau tiras harian ini sudah mencapai 500 hingga 750 lembar per hari, maka sesudah pindah ke Banjarmasin tirasnya meningkat menjadi 3.500 lembar perhari.

Dalam tahun 1947 pendukung harian ini bertambah kuat dengan masuknya Adonis Samat (yang berhenti sebagai Pimpinan Redaksi Sinar Hoeloe Soengai dengan seizin Merah Danil Bangsawan). Kemudian pada sekitar bulan Mei 1947 Adonis Samat diangkat menjadi pimpinan redaksi Kalimantan Berdjuang. Haspan Hadna yang sebelumnya memegang jabatan pemimpin redaksi kemudian bertindak sebagai pemimpin perusahaan. Sedangkan wartawannya adalah Mustafa, Zainal dan Arthum Artha.

Dalam tahun 1948 pemerintah NICA melakukan penangkapan-penangkapan terhadap tokoh-tokoh pejuang dan tokoh-tokoh pers, termasuk Haspan Hadna dan Adonis Samat. Namun Kalimantan Berdjuang waktu itu masih terbit mengunjungi para pembaca.

Memasuki tahun 1949 Harian Kalimantan Berdjuang diperkuat dengan masuknya tokoh pers perjuangan lainnya, yakni Yusni Antemas dan Zafry Zamzam. Pada penerbitan Kalimantan Berdjuang edisi Djumat, 11 Nopember 1949 tertulis bahwa Ketua Umum: Haspan Hadna, Ketua Redaksi: Zafry Zamzam, Tata Usaha: A. Djabar. Alamat redaksi: Kertak Baru 133 Banjarmasin Telepon No. 131. Zafry Zamzam kemudian diserahi jabatan sebagai Pemimpin Redaksi yang ditinggalkan Adonis Samat, karena yang bersangkutan bergabung dalam barisan perjuangan bersenjata. Surat kabar ini hanya bisa bertahan beberapa tahun saja yaitu kisaran waktu 1946-1951.

Pada tahun 1995 para pemuda-pemuda Kalimantan yang tinggal di Surabaya yaitu Aspihani, H Marli, Muhammad Yusran dan H Antung Abdan Syahrani, pada waktu itu mereka sebagai seorang mahasiswa dan santri di Bangil pernah menggagas untuk menerbitkan kembali surat kabar Soeara Kalimantan ini dengan merubah kalimat nama menjadi Surat Kabar Mingguan Suara Kalimantan.

Mereka berusaha menggalang dana untuk biaya percetakan, namun dana yang terkumpul tidak tercukupi untuk mencetak Koran tersebut dan pada akhirnya penerbitan dibathalkan.
Sudah sekian lama Surat Kabar Soeara Kalimantan mati tanpa jejak, akhirnya di tahun 2004 muncul lagi dengan nama Surat Kabar Mingguan Suara Kalimantan yang di gagas oleh pemuda intelektual Kalimantan Selatan yaitu Dr. MS. Shiddiq, Aspihani Ideris, dan Badrul Ain sanusi Alafif MS yang beralamat redaksi di Jalan KH Solih Iskandar, Perum Griya Indah, Blok Q No.3-A Bogor. Karena minimnya pendanaan Surat Kabar Mingguan Suara Kalimantan akhirnya hanya bisa bertahan 2 (dua) tahun berjalan.

Tahun 2007 Surat Kabar Mingguan “Suara Kalimantan” muncul lagi walau hanya lewat jalur online (internit) di jalankan oleh para pemuda yang cinta media di Kalimantan Selatan yaitu Aspihani Ideris MH dan Fathur Rahman. Pemberitaannya banyak menyangkut pengangkatan kasus-kasus korupsi di Kalimantan Selatan dan permasalahan pertambangan batubara.

Aspihani Ideris MH berpikiran katanya “Kalau hanya lewat jalur online saya rasa kurang begitu mengena, alangkah baiknya kita terbitkan lewat berupa surat kabar mingguan”.

Akhirnya di awal tahun 2010 Surat Kabar Mingguan “Suara Kalimantan” muncul lagi dengan penampilan beda dan bertemakan Media Politik, Hukum dan Lingkungan, MENGUPAS MASALAH DENGAN TUNTAS yang di prakarsai oleh aktivis-aktivis OKP-LSM di Kalimantan Selatan seperti Dr MS Shiddiq, Aspihani Ideris MH, Sj A Abdis, Dharma Jaya, Ipriani Suleman Kaderi SAB, Fathur Rahman, Badrul Ain S Alafif MS, Kastalani Ideris, Anang Tony, dan M Fauzi Noor yang beralamat REDAKSI / IKLAN / SIRKULASI di Jalan Gatot Subroto, Komplek Mandastana IV RT.31 No.45 Banjarmasin Kode Pos 70236, Telp/Fax : (+62511) 742 2662 / (+62511) 325 4304 Mobile : +6281 9260 5311 dan penerbit PT. LEKEM KALIMANTAN.

Penerbitan dilakukan mingguan setiap hari Senin yang mencetak pertama kalinya di redaksi Radar Banjarmasin dengan cetakan 1000 exsplamper dengan harga jual eceran @ Rp.2500 (Dua Ribu Lima Ratus Rupiah).

Surat Kabar Mingguan “Suara Kalimantan” mencetak di Radar Banjarmasin hanya bisa bertahan tiga kali terbit karena biaya cetak yang tidak bisa terjangkau oleh redaksi Surat Kabar Mingguan “Suara Kalimantan”. Pada akhirnya pindah cetak ke redaksi Media Kalimantan dengan sekali cetak 3000 axsplamper dengan harga jual eceran tetap sama seperti semula @ Rp.2500 (Dua Ribu Lima Ratus Rupiah).***